Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label Makalah Paud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah Paud. Tampilkan semua postingan

Makalah Pemanfaatan Air Kelapa untuk Meningkatkan Pertumbuhan Stek Pucuk Meranti Tembaga (Shorea leprosula Miq.)

Makalah Pemanfaatan Air Kelapa untuk Meningkatkan Pertumbuhan Stek Pucuk Meranti Tembaga (Shorea leprosula Miq.)


BAB I
PENDAHULUAN

Penelitian-penelitian untuk meningkatkan keber-hasilan stek pucuk jenis-jenis Meranti (Shorea spp) telah banyak dilakukan.  Pemberian zat pengatur tumbuh seperti IAA, IBA dan NAA dapat mendorong inisiasi akar, mempercepat pembentukan akar,  meningkatkan persentase stek berakar,  meningkatkan jumlah dan kualitas akar stek pucuk jenis-jenis Meranti.
Air kelapa merupakan limbah yang tidak berharga dan mudah diperoleh dimana-mana.  Berdasarkan hasil analisis hormon yang dilakukan oleh Savitri (2005) ternyata dalam air kelapa muda terdapat Giberelin (0,460 ppm GA3,  0,255 ppm GA5,  0,053 ppm GA7),  Sitokinin (0,441 ppm Kinetin,  0,247 ppm Zeatin) dan Auksin (0,237 ppm IAA).  Penelitian tentang penggunaan air kelapa untuk merangsang pertumbuhan akar stek telah dilakukan terhadap stek lada (Sumangunsong  1991),  stek teh (Suraatmadja  1993),  stek batang sambung nyawa (Savitri  2005),  dari hasil penelitian tersebut terbukti bahwa stek yang direndam dalam air kelapa dapat meningkatkan persentase stek berakar dan meningkatkan jumlah dan kualitas akar.
Penelitian tentang pengaruh penggunaan air kelapa terhadap pertumbuhan stek pucuk jenis Meranti pertama kali dilakukan oleh Rusmayasari (2006) terhadap stek pucuk Meranti Bapa (Shorea selanica), ternyata air kelapa dapat meningkatkan pertumbuhan stek pucuk.  Penelitian tersebut perlu dilanjutkan untuk jenis-jenis Meranti lainnya dan dengan menggunakan teknologi penumbuhan akar stek yang lebih sederhana.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian air kelapa, IBA dan NAA terhadap pertumbuhan stek pucuk Meranti Tembaga (S. leprosula).




BAB II
PEMBAHASAN


A.      Pemanfaatan Air Kelapa untuk Meningkatkan Pertumbuhan Stek Pucuk Meranti Tembaga (Shorea leprosula Miq.)

Hasil pengamatan pengaruh pemberian air kelapa,  100 ppm IBA dan 100 ppm NAA terhadap parameter pertumbuhan stek pucuk Meranti Tembaga (S.leprosula) pada umur 4 bulan setelah tanam disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1.           Pengaruh air kelapa,  IBA dan NAA terhadap pertumbuhan stek pucuk Meranti Tembaga (S. leprosula)
Parameter Pertumbuhan
Perlakuan
Kontrol
Air Kelapa
100 ppm IBA
100 ppm NAA
Persentase hidup (%)
65,00
80,00
88,00
80,00
Persentase bertunas (%)
46,67
80,00
76,77
73,33
Persentase berakar (%)
42,00
75,00
78,00
73,00
Berat kering akar (g)
0,174
0,338
0,332
0,330
Pemberian air kelapa,  100 ppm IBA dan 100 ppm NAA mampu meningkatkan semua parameter pertumbuhan stek pucuk dibandingkan dengan kontrol.
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian air kelapa,  100 ppm IBA dan 100 ppm NAA berpengaruh sangat nyata terhadap persentase  hidup,  persentase  bertunas,  persentase  berakar,  dan berpengaruh nyata terhadap berat kering akar (Tabel 2).

Tabel 2.           Sidik ragam pengaruh air kelapa,  IBA dan NAA terhadap pertumbuhan stek pucuk Meranti Tembaga (Shorea leprosula)
Parameter Pertumbuhan
F hitung
Persentase  hidup
13,17**
Pesentase bertunas
23,80**
Persentase  berakar
8,01**
Berat kering akar
4,75*e
Keterangan :
**) = berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99%
*)   = berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95%

Hasil uji Duncan pengaruh pemberian air kelapa,  100 ppm IBA dan 100 ppm NAA terhadap parameter pertumbuhan stek pucuk Meranti Tembaga (S.leprosula) disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3.           Uji Duncan pengaruh air kelapa,  IBA dan NAA terhadap pertumbuhan stek pucuk Meranti Tembaga (Shorea leprosula)
Parameter Pertumbuhan
Perlakuan
Kontrol
Air kelapa
100 ppm IBA
100 ppm NAA
Persentase hidup (%)
53,76 a
63.55 b
70,11 c
63,55 b
Persentase bertunas (%)
43,08 a
63.55 b
61,15 b
59,04 b
Persentase berakar (%)
40,67 a
60,08 b
62,29 b
59,06 b
Berat kering akar (g)
0,174 a
0,338 b
0,332 b
0,330 b
Keterangan : angka yang diikuti huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada selang kepercayaan 95%

Pemberian air kelapa, 100 ppm IBA dan 100 ppm NAA berbeda nyata dengan kontrol untuk semua parameter pertumbuhan stek pucuk, sedangkan pemberian air kelapa,  100 ppm IBA dan 100 ppm NAA satu sama lain tidak berbeda nyata untuk persentase  bertunas,  persentase  berakar dan berat kering akar,  khusus untuk persentase  hidup,  100 ppm IBA berbeda nyata baik dengan pemberian air kelapa maupun dengan 100 ppm NAA.
Teknologi penumbuhan akar stek pucuk Meranti Tembaga (S.leprosula) dilakukan secara sederhana,  yaitu menggunakan bak pengakaran yang terbuat dari tembok dimana bagian atasnya ditutup dengan plastik tebal transpparan yang dapat dibuka dan ditutup.  Untuk mengurangi intensitas cahaya matahari di bagian atas bak pengakaran diberi naungan dengan paranet 70%.  Kegiatan penyiraman dilakukan secara intensif dengan menggunakan hand spprayer yang dapat menghasilkan butiran-butiran air yang halus (proses pengkabutan).
Dengan teknologi tersebut di atas kelembaban udara rata-rata di dalam bak pengakaran berkisar 93,7% pada pagi hari, 90,2% pada siang hari dan 92,8% pada sore hari, temperatur udara rata-rata berkisar 25,6ºC pada pagi hari,  30,2º C pada siang hari dan 27,8º C pada sore hari.
Secara umum penelitian ini berlangsung dengan baik,  sampai stek pucuk berumur 4 bulan setelah tanam persentase  hidup termasuk tinggi,  yaitu 80% untuk stek pucuk  yang diberi air kelapa dan 100 ppm NAA dan 88% untuk stek pucuk yang diberi 100 ppm IBA sedangkan untuk kontrol mencapai 60%.  Hal tersebut diduga karena kondisi kelembaban udara dan temperatur udara di dalam bak pengakaran optimal untuk pertumbuhan stek pucuk Meranti Tembaga, sesuai dengan pendapat Andriance dan Brison (1955) yang menyatakan bahwa kelembaban udara yang tinggi sangat berguna untuk mencegah kekeringan sebelum stek berakar, terutama untuk stek herbaceous, stek berbatang lunak dan stek berdaun.  Selanjutnya Mahlstede dan Haber (1962) mengemukakan bahwa kelembaban yang optimal untuk perakaran stek berdaun adalah sekitar 90% pada saat belum terbentuk perakaran dan minimal 75% ketika mulai terbentuk akar-akar yang masih lemah.  Selanjutnya Rochiman dan Harjadi (1973) menambahkan bahwa temperatur yang optimal untuk pembentukan akar stek berbeda-beda untuk tiap jenis tanaman, pada umumnya temperatur udara yang optimal berkisar pada 29º C sedangkan temperatur media perakaran sebaiknya sekitar 24º C karena pada temperatur ini pembagian sel pada daerah perakaran akan distimulir.  Sedangkan menurut Hartmann et al. (1997), secara umum temperatur yang diperlukan untuk pertumbuhan stek berkisar antara 21º C - 27º C.
Pemberian air kelapa,  100 ppm IBA dan 100 ppm NAA mampu meningkatkan persentase hidup,  persentase  bertunas,  persentase  berakar dan berat kering akar dibandingkan dengan kontrol.  Peningkatan semua parameter pertumbuhan stek pucuk yang diberi air kelapa tidak berbeda nyata dengan stek pucuk yang diberi 100 ppm IBA mupun yang diberi 100 ppm NAA.
Menurut Janick (1979),  kapasitas bagian vegetatif menghasilkan akar diakibatkan oleh interaksi faktor-faktor yang melekat (inherent) pada tanaman dengan faktor lain seperti zat-zat yang dapat diangkut oleh tanaman dan diproduksi dalam kuncup,  yakni auksin, karbohidrat, senyawa-senyawa nitrogen, vitamin dan berbagai senyawa lain yang belum berhasil diidentifikasi.  Disebutkan juga, bahwa zat yang berinteraksi dengan auksin dinamakan rooting cofactor yang menjadi pelatuk terjadinya perakaran.  Sampai saat ini, baru auksin yang dianggap dapat menginduksi tumbuhnya akar pada stek.
Krisnamoorthy (1981) memperkuat pendapat tersebut di atas bahwa berdasarkan percobaan-percobaan yang telah dilakukan selama ini ternyata bahwa dari sekian banyak zat pengatur tumbuh yang ada,  hanya golongan auksin (sintetik maupun alamiah) yang mampu menginduksi perakaran stek.
Menurut Moore (1979),  Indole Acetic Acid (IAA) merupakan satu-satunya auksin yang terdapat secara alamiah.  Senyawa-senyawa lain (auksin sintetik) yang secara fisiologis menunjukkan aktivitas seperti auksin antara lain Indole Butyric Acid (IBA) dan Napthalene Acetic Acid (NAA).  Selanjutnya Wattimena (1988) mengemukakan bahwa dari berbagai percobaan yang telah dilakukan,  IBA dan NAA merupakan zat pengatur tumbuh yang dapat menginduksi tumbuhnya akar pada stek tanaman berkayu dan tanaman berbatang lunak.
Savitri (1995) telah melakukan analisis hormon pada air kelapa muda, ternyata dalam air kelapa muda terdapat Giberelin (0,460 ppm GA3, 0,255 ppm GA5 dan 0,053 ppm GA7),  Sitokinin (0,441 ppm Kinetin dan 0,247 ppm Zeatin) dan Auksin (0,237 ppm IAA). 
Kandungan hormon sitokinin (kinetin dan zeatin)dan auksin (IAA) pada air kelapa diduga yang menyebabkan meningkatnya semua parameter pertumbuhan stek pucuk meranti tembaga dan peningkatannya tidak berbeda nyata dengan stek pucuk yang diberi 100 ppm IBA dan 100 ppm NAA.
Tumbuhnya tunas pada stek sangat diperlukan untuk mendorong terjadinya perakaran stek.  Pembentukan akar tidak akan terjadi bila seluruh tunas dihilangkan atau dalam keadaan dorman,  hal ini terjadi karena tunas berperan sebagai sumber auksin yang menstimulir pembentukan akar, terutama bila tunas mulai tumbuh (Leopold 1955).
Pertumbuhan tunas pada stek pucuk meranti tembaga yang diberi air kelapa lebih cepat dan serempak, hal ini diduga karena adanya kandungan sitokinin yang terdiri dari kinetin dan zeatin pada air kelapa.  Menurut Leopold (1955) dan Bidwell (1974),  adanya sitokinin memungkinkan terjadinya pem-bentukan tunas dengan segera dan serempak,  mencegah terjadinya pengguguran daun yang lebih dini,  terjadinya pembelahan dan pembesaran sel yang lebih aktif.
Hasil penelitian pengaruh pemberian air kelapa pada stek pucuk meranti bapa (S. selanica ) yang dilakukan Rusmayasari (2006) menunjukkan hasil yang sama dengan penelitian ini dimana pemberian air kelapa mampu meningkatkan parameter pertumbuhan (persen hidup,  persen berakar, berat kering akar) stek pucuk meranti bapa dibanding kontrol, peningkatan tersebut tidak berbeda nyata dengan stek pucuk yang diberi 100 ppm NAA , namun ada perbedaan pada  pemberian 100 ppm IBA belum mampu meningkatkan parameter pertumbuhan stek pucuk meranti bapa.  Hal tersebut diduga karena pemberian IBA dengan konsentrasi 100 ppm belum optimal untuk merangsang pertumbuhan stek pucuk meranti bapa, sesuai dengan pendapat Hartmann et al. (1997), penggunaan zat pengatur tumbuh seperti IAA, IBA dan NAA dapat mendorong inisiasi akar, mempercepat pembentukan akar,  mening-katkan persen stek berakar, meningkatkan jumlah dan kualitas akar dan meningkatkan keseragaman perakaran.  Walaupun demikian pem-berian zat pengatur tumbuh tersebut pada berbagai konsentrasi dapat berbeda-beda untuk setiap jenis tanaman,  bahkan berbeda pula antar varietas dalam satu jenis.

BAB III
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
1.       Pemberian air kelapa pada stek pucuk meranti tembaga (S. leprosula) dapat meningkatkan persen hidup,  persen bertunas,  persen berakar dan berat kering akar, peningkatan tersebut tidak berbeda nyata dengan pemberian 100 ppm IBA maupun 100 ppm NAA.
2.       Air kelapa memiliki efektifitas yang sama dengan 100 ppm IBA maupun dengan 100 ppm NAA sehingga air kelapa direkomendasikan untuk digunakan sebagai perangsang pertumbuhan stek pucuk meranti tembaga (S. leprosula).



















DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pemanfaatan%20air%20kelapa%20untuk%20meningkatkan%20pertumbuhan%20stek%20pucuk%20meranti%20tembaga%20%28shorea%20leprosula%20miq.%29&source=web&cd=1&ved=0CEoQFjAA&url=http%3A%2F%2Frepository.ipb.ac.id%2Fbitstream%2Fhandle%2F123456789%2F54452%2F2.%2520Edje%2520Djamhuri.doc%3Fsequence%3D3&ei=bf32T5jPMpGHrAfIn6TZBg&usg=AFQjCNGSG9zCTCUFIHH4G4ILi9GfCs6R4A&cad=rja

PENDIDIKAN ANAK PRA SEKOLAH

PENDIDIKAN ANAK PRA SEKOLAH

BAB I
PENDAHULUAN

1.      Pengertian Anak Prasekolah
Bervariasinya pemahaman para ahli pendidikan tentang pengertian pendidikan anak Prasekolah sehingga akan mengaburkan arah pembicaraan. Kajian ini mengarahkepada tinjauan Dr. Mansur tentang anak Prasekolah dari sudut pandang agama, darihasil pengkombinasian agama dan umum. Mansur, dalam landasannya untuk menjelaskan pengertian anak Prasekolah mengacu kepada The Nation Assocition for The Education of Young Childhood (NAEYC).

FILSAFAT PENDIDIKAN PAUD

FILSAFAT PENDIDIKAN PAUD

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Filosofi pendidikan merupakan kerangka landasan yang sangat fundamental bagi sistem  pendidikan  dan  para  pendidik.  Kerangka  filosofis  memberikan  gambaran tentang cara pandang guru terhadap pendidikan itu sendiri (termasuk didalamnya kurikulum, tujuan pendidikan dan isi pendidikan), anak didik dan proses pembelajaran. Kerangka filosofis harus menjadi kerangka berpikir guru atau   mind set guru dalam menyelenggarakan praksis pembelajaran.
Adapun  landasan  pedagogis  memberikan  sejumlah  pemahaman  konseptual  dan praktis tentang bagaimana  proses pendidikan  itu terjadi dalam berbagai lingkungan, termasuk didalamnya adalah pola pengasuhan anak, model pembelajaran, metode pembelajaran dan teknik pembelajaran, penggunaan media dan sumber belajar, penyusunan langkah pembelajaran dan penilaian yang mendidik. Dari sudut filosofis pendidikan, banyak ragam konsep cara pandang pelaksanaan pendidikan  yang digagas oleh para filosof. 
Pandangannya tentang hakikat pengetahuan menyatakan bahwa pengetahuan yang benar diperoleh melalui intuisi dan pengingatan kembali. Pengetahuan yang diperoleh melalui indera tidak pasti, tidak lengkap, karena dunia materi hanyalah tipuan belaka, sifatnya maya, dan menyimpang dari keadaan lingkungan yang lebih sempurna. Kebenaran hanya mungkin dapat dicapai oleh beberapa orang yang mempunyai akal pikiran cemerlang, dan sebagian besar manusia hanya sampai pada tingkat pendapat. Sehubungan dengan teori pengetahuannya,   intelek dan akal memegang peranan yang sangat penting atau menentukan  proses belajar mengajar,  karena menurut aliran ini manusia akan dapat memperoleh pengetahuan dan kebenaran sejati. Dengan demikian pengetahuan yang diajarkan di sekolah harus bersifat intelektual.


 BAB II
PEMBAHSAN

A.    Dasar Filsafat Pendidikan Di PAUD
Untuk mendukung mewujudkan  anak  usia  dini  yang  berkualitas, maju, mandiri, demokrasi,  dan  berprestasi, maka  filsafat  pendidikan  di  TPA  dapat  dirumuskan menjadi: Tempa, Asah, Asih, Asuh.
1.      Tempa 
Yang dimaksud dengan  tempa adalah untuk mewujudkan kualitas  fisik anak usia  dini  melalui  upaya  pemeliharaan  kesehatan,  peningkatan  mutu  gizi, olahraga  yang  teratur  dan  terukur,  serta  aktivitas  jasmani  sehingga  anak memiliki fisik kuat, lincah, daya tahan dan disiplin tinggi.
2.       Asah 
Asah  berarti  memberi  dukungan  kepada  anak  untuk  dapat  belajar  melalui bermain  agar  memiliki  pengalaman  yang  berguna  dalam  mengembangkan seluruh  potensinya.  Kegiatan  bermain  yang  bermakna,  menarik,  dan merangsang  imajinasi,  kreativitas  anak  untuk  melakukan,  mengekplorasi, memanipulasi,  dan  menemukan  inovasi  sesuai  dengan  minat  dan  gaya belajar anak.
3.        Asih 
Asih  pada  dasarnya  merupakan  penjaminan  pemenuhan  kebutuhan  anak untuk  mendapatkan  perlindungan  dari  pengaruh  yang  dapat  merugikan pertumbuhan  dan  perkembangan, misalnya  perlakuan  kasar,  penganiayaan fisik dan mental dan ekploitasi.
4.       Asuh 
Melalui  pembiasaan  yang  dilakukan  secara  konsisten  untuk  membentuk perilaku dan kualitas kepribadian dan jati diri anak dalam hal:
a.       Integritas, iman, dan taqwa;
b.      Patriotisme, nasionalisme dan kepeloporan;
c.       Rasa tanggung jawab, jiwa kesatria, dan sportivitas;
d.      Jiwa kebersamaan, demokratis, dan tahan uji;
e.       Jiwa tanggap (penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi), daya kritis dan idealisme;
f.       Optimis dan keberanian mengambil resiko;
g.      Jiwa kewirausahaan, kreatif dan profesional.
1.      Prinsip Umum Pendidikan Anak Usia Dini 
Pendidikan anak usia dini yang diterapkan dalam program TPA didasarkan atas prinsip-prinsip berikut:
1.        Berorientasi pada kebutuhan anak.
2.        Sesuai dengan perkembangan anak.
3.        Sesuai dengan keunikan setiap individu.
4.        Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain.
5.        Anak belajar dari yang konkrit ke abstrak, dari yang sederhana ke yang kompleks, dari gerakan ke verbal, dan dari diri sendiri ke sosial.
6.        Anak sebagai pembelajar aktif.
7.        Anak belajar melalui interaksi sosial
8.        Merangsang munculnya kreativitas dan inovatif.
9.        Mengembangkan  kecakapan hidup anak.
10.    Menggunakan berbagai sumber dan media belajar yang ada di lingkungan sekitar.
11.    Anak belajar sesuai dengan kondisi sosial budayanya.
12.    Melibatkan peran serta orangtua yang bekerja sama dengan para pendidik di lembaga PAUD.
13.    timulasi  pendidikan  bersifat  menyeluruh  yang  mencakup  semua aspek perkembangan.
2.      Berikut penjelasan prinsip-prinsip dimaksud:
1.        Berorientasi pada kebutuhan anak.
Pada  dasarnya  setiap  anak memiliki  kebutuhan  dasar  yang  sama,  seperti kebutuhan  fisik,  rasa aman, dihargai,  tidak dibeda-bedakan, bersosialisasi, dan kebutuhan untuk diakui. Anak tidak bisa belajar dengan baik apabila dia lapar, merasa tidak aman/ takut, lingkungan tidak sehat, tidak dihargai atau diacuhkan  oleh  pendidik  atau  temannya.  Hukuman  dan  pujian  tidak termasuk  bagian  dari  kebutuhan  anak,  karenanya  pendidik  tidak menggunakan  keduanya  untuk  mendisiplinkan  atau  menguatkan  usaha yang ditunjukkan anak.

2.         Sesuai dengan perkembangan anak.
Setiap usia mempunyai tugas perkembangan yang berbeda, misalnya pada usia 4 bulan pada umumnya anak bisa tengkurap, usia 6 bulan bisa duduk, 10 bulan bisa berdiri, dan 1 tahun bisa berjalan. Pada dasarnya semua anak memiliki pola perkembangan yang dapat diramalkan, misalnya anak akan bisa berjalan setelah bisa  berdiri.  Oleh  karena  itu  pendidik  harus  memahami  tahap  perkembangan anak  dan  menyusun  kegiatan  sesuai  dengan  tahapan  perkembangan  untuk mendukung pencapaian tahap perkembangan yang lebih tinggi.
3.         Sesuai dengan keunikan setiap individu.
Anak  merupakan  individu  yang  unik,  masing-masing  mempunyai  gaya belajar  yang  berbeda.  Ada  anak  yang  lebih  mudah  belajarnya  dengan mendengarkan  (auditori),  ada  yang  dengan melihat  (visual)  dan  ada  yang harus dengan bergerak (kinestetik). Anak juga memiliki minat yang berbeda-beda  terhadap  alat/  bahan  yang  dipelajari/digunakan,  juga  mempunyai temperamen  yang  berbeda,  bahasa  yang  berbeda,  cara  merespon lingkungan,  serta  kebiasaan  yang  berbeda.  Pendidik  seharusnya mempertimbangkan perbedaan  individual anak, serta mengakui perbedaan tersebut  sebagai  kelebihan  masing-masing  anak.  Untuk  mendukung  hal tersebut  pendidik  harus  menggunakan  cara  yang  beragam  dalam membangun  pengalaman  anak,  serta  menyediakan  ragam  main  yang cukup.
4.         Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain.
Pembelajaran dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Melalui bermain anak  belajar  tentang:  konsep-konsep  matematika,  sains,  seni  dan kreativitas,  bahasa,  sosial,  dan  lain-lain.  Selama  bermain,  anak mendapatkan  pengalaman  untuk  mengembangkan  aspek-aspek/nilai-nilai moral,  fisik/motorik,  kognitif,  bahasa,  sosial  emosional,  dan  seni. Pembentukan  kebiasaan  yang  baik  seperti  disiplin,  sopan  santun,  dan lainnya dikenalkan melalui cara yang menyenangkan.
.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
 Sesuaikan pola asuh dengan situasi, kondisi, kemampuan dan kebutuhan anak. Polas asuh anak balita tentu akan berbeda dengan pola asuh anak remaja.. Usahakan anak mudah paham dengan apa yang kita inginkan tanpa merasa ada paksaan, namun atas dasar kesadaran diri sendiri.
 Komunikasi dilakukan secara terbuka dan menyenangkan dengan batasan-batasan tertentu agar anak terbiasa terbuka pada orangtua ketika ada hal yang ingin disampaikan atau hal yang mengganggu pikirannya. Jika marah sebaiknya orangtua menggunakan ungkapan yang baik dan tidak langsung yang dapat dipahami anak agar anak tidak lantas menjadi tertutup dan menganggap orangtua tidak menyenangkan.
B.     Saran
Orang tua menggunakan diskusi, penjelasan dan alasan-alasan yang membantu anak agar mengerti mengapa ia diminta untuk mematuhi suatu aturan. Orang tua menekankan aspek pendidikan dari pada aspek hukuman. Hukuman tidak pernah kasar dan hanya diberikan apabila anak dengan sengaja menolak perbuatan  yang harus ia lakukan. Apabila perbuatan anak sesuai dengan apa yang patut ia lakukan, orang tua memberikan pujian. Orang tua yang demokratis adalah orang tua yang berusaha untuk menumbuhkan kontrol dari dalam diri anak sendiri.

DAFTAR FUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_anak_usia_dini
http://qeeasyifa.multiply.com/journal/item/61/MEMAHAMI_PENDIDIKAN_ANAK_USIA_DINI
http://www.tabloid-nakita.com/artikel2.php3?edisi=07327&rubrik=topas
http://eldiina.com/index.php?option=com_content&task=view&id=29&Itemid=1